Minggu, 13 Juli 2014

Lumatan Coklat Dalam Hening


Sepi hening menyelimutiku diatas karpet tipis di tengah gelisahnya malam yang teramat larut
Membuat gunda akan keraguan yang membekas di kala fajar menengok untuk kehadiran senja
Sebulir coklat yang lembut meleleh oleh liur,sembari ku teringat kisah dimana lusa itu kau hadir dengan kelembutan seperti coklat yang melekat di bibir,tak terasa pahit atau pun manis
Namun aku seolah melayang ketika rasa itu mulai muncul dari kegelisahan
Rembulan pun mengintip dari kejauhan dengan sayu awan melambai untuk mengajak menari
Namun tarian itu membuatku tak lagi merasakan aliran darah yang kian kali mengingatkanku pada sesuatu di rumah
Tempatku menyadarkan beberapa bait puisi untuk esok ku bacakan di tempat yang paling nyaman


Mojokerto,7 Januari 2014

Sabtu, 28 Juni 2014

Puisi



Rajutan Kisah

Malam ini hanya namamu Mell, yang menemaniku di ujung pagiku.
Apakah kau tak pernah bermimpi,
pada suatu kisah ulasan negeri dongeng.
 Dimana.putri bertemu dengan pangeran di tengah peperangan.
Dan pada saat itu hanya pelukan yang bisa menyelamatkan kita,
sebab ketika tubuhmu menyentuh tubuhku,
 seolah ada kekuatan magic,
 yang membuat setiap orang yang ada di dekat kita terpental jauh.
Mell, pernahkah kau bermimpi, kelak kita akan membangun kerajaan yang penuh dengan bunga,
walau hanya sekadar bunga tidur untuk malam ini.

Semoga malam ini, namamu yang bersajak mulai menyelimuti mimpiku.

Akankah semu bisa menjadi lugu.....
hingga esok pun kian membiru sebiru samudera bekas luka yang dulu pernah membeku.

***




Bantaran Kali Kromong

Sejarah telah memolesmu dengan segala bentuk bongkahan cerita,
juga dengan percikan kisah dari para nafas yang mendesah.

Luasmu pun kian beradu dengan jalan setapak, membuah tapak semakin retak, namun ini mungkin takdirmu. Sebab, banyak tangis yang mengiris setiap hati yang tipis. Batumu pun
kini menjadi nasi bungkus dan beberapa batang nafas, tangan yang renta pun tak peduli akan otot dan tulangnya yang mulai tak sanggup lagi menompang buliran pasirmu.

Detak yang sili berganti membuat irama waktu terus bergulir, seiring para kaum berdasi memasrahkan hidup padamu, hanya karena ingin menaiki sedan dengan kursi empuk.

Ironi memang, namun ini demi kenyang. Ya. sudahlah. Tuhan pun sudah memperhitungkan. Akan semua hidup yang mengalir, seperti airmu yang terus berarus mengikuti jarak kehidupan yang tak akan pernah habis untuk di kupas.