Rajutan Kisah
Malam ini hanya namamu Mell, yang menemaniku di ujung pagiku.
Apakah kau tak pernah bermimpi,
pada suatu kisah ulasan negeri
dongeng.
Dimana.putri bertemu dengan pangeran di tengah
peperangan.
Dan pada saat itu hanya pelukan yang
bisa menyelamatkan kita,
sebab ketika tubuhmu menyentuh
tubuhku,
seolah ada kekuatan magic,
yang membuat setiap orang yang ada di dekat
kita terpental jauh.
Mell, pernahkah kau bermimpi, kelak
kita akan membangun kerajaan yang penuh dengan bunga,
walau hanya sekadar bunga tidur
untuk malam ini.
Semoga malam ini, namamu yang bersajak mulai menyelimuti mimpiku.
Akankah semu bisa menjadi lugu.....
hingga esok pun kian membiru sebiru
samudera bekas luka yang dulu pernah membeku.
***
Bantaran Kali Kromong
Sejarah telah memolesmu dengan segala bentuk bongkahan cerita,
juga dengan percikan kisah dari para nafas yang mendesah.
Luasmu pun kian beradu dengan jalan setapak, membuah tapak semakin retak, namun ini mungkin takdirmu. Sebab, banyak tangis yang mengiris setiap hati yang tipis. Batumu pun
kini menjadi nasi bungkus dan beberapa batang nafas, tangan yang renta pun tak peduli akan otot dan tulangnya yang mulai tak sanggup lagi menompang buliran pasirmu.
Detak yang sili berganti membuat irama waktu terus bergulir, seiring para kaum berdasi memasrahkan hidup padamu, hanya karena ingin menaiki sedan dengan kursi empuk.
Ironi memang, namun ini demi kenyang. Ya. sudahlah. Tuhan pun sudah memperhitungkan. Akan semua hidup yang mengalir, seperti airmu yang terus berarus mengikuti jarak kehidupan yang tak akan pernah habis untuk di kupas.
Sejarah telah memolesmu dengan segala bentuk bongkahan cerita,
juga dengan percikan kisah dari para nafas yang mendesah.
Luasmu pun kian beradu dengan jalan setapak, membuah tapak semakin retak, namun ini mungkin takdirmu. Sebab, banyak tangis yang mengiris setiap hati yang tipis. Batumu pun
kini menjadi nasi bungkus dan beberapa batang nafas, tangan yang renta pun tak peduli akan otot dan tulangnya yang mulai tak sanggup lagi menompang buliran pasirmu.
Detak yang sili berganti membuat irama waktu terus bergulir, seiring para kaum berdasi memasrahkan hidup padamu, hanya karena ingin menaiki sedan dengan kursi empuk.
Ironi memang, namun ini demi kenyang. Ya. sudahlah. Tuhan pun sudah memperhitungkan. Akan semua hidup yang mengalir, seperti airmu yang terus berarus mengikuti jarak kehidupan yang tak akan pernah habis untuk di kupas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar